Sabtu, 06 April 2013

Ringkasan Materi Filsafat Pendidikan


BAB I
PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP FILSAFAT PENDIDIKAN

A.    Pengertian Filsafat
Kata filsafat berasal dari bahasa yunani, philosophia yang berarti cinta pengetahuan. Dari asal kata ini dapat ditarik pengertian bahwa filsafat adalah cinta ilmu pengetahuan atau kebenaran, suka kepada hikmah dan kebijaksanaan.
                        Filsafat dibutuhkan manusia dalam upaya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam berbagai lapangan kehidupan manusia, termasuk di dalam bidang pendidikan .
B.     Pengertian Filsafat Pendidikan
Filsafat pendidikan adalah aktivitas pikiran yang teratur yang menjadikan filsafat sebagai jalan untuk mengatur, menyelaraskan, dan memadukan proses pendidikan.
Dalam pandangan Jhon Dewey, pendidikan adalah sebagai proses pembentukan kemampuan dasar yang fundamental, yang menyangkut daya pikir  (intelektual) maupun daya rasa (emosi) manusia.
C.     Ruang Lingkup Bahasan Filsafat Pendidikan
Filsafat bertujuan memberikan pengertian yang dapat diterima oleh manusia mengenai konsep-konsep hidup secara ideal dan mendasar bagi manusia agar mendapatkan kebahagiaan dan kesejahtraan.
Secara makro, apa yang menjadi objek pemikiran filsafat yaitu permasalahan kehidupan manusia, alam semesta dan sekitarnya. Juga merupakan objek pemikiran filsafat pendidikan, namun secara mikro ruang lingkup filsafat pendidikan meliputi :
1)      Merumuskan secara tegas sifat hakikat pendidikan
2)      Merumuskan sifat hakikat manusia, sebagai subjek dan objek pendidikan
3)      Merumuskan secara tegas hubungan antara filsafat, filsafat pendidikan, agama dan budaya.
4)      Merumuskan hubungan antara filsafat, filsafat pendidikan dan teori pendidikan
5)      Merumuskan hubungan antara filsafat Negara (ideologi), filsafat pendidikan dan politik pendidikan (sistem pendidikan)
6)      Merumuskan sistem nilai-norma atau isi moral pendidikan yang merupakan tujuan pendidikan.
Selain itu filsafat pendidikan juga memiliki beberapa sumber primer yaitu :
1.      Manusia (peole). Macam-macam hubungan dan pengalaman seseorang bersama kelompok masyarakat lainnya membantu proses penciptaan sikap dan sistem keyakinan seseorang.
2.      Sekolah (school). Pengalaman seseorang jenis sekolah dan guru-guru di dalamnya merupakan sumber-sumber pokok dari filsafat pendidikan . sekolah mempengaruhi dan akan terus mempengaruhi filsafat pendidikan seseorang.
3.      Lingkungan (environment). Lingkungan sosial budaya tempat seseorang tinggal dan dibesarkan adalah sumber yang lain dari filsafat pendidikan.

D.    Hubungan Filsafat Dengan Filsafat pendidikan
Filsafat pendidikan adalah aktivitas pemikiran yang teratur yang menjadikan  filsafat sebagai media untuk menyusun proses pendidikan, menyelaraskan, mengharmoniskan dan menerapkan nilai-nilai dan tujuan yang ingin dicapai. Tujuan pendidikan adalah tujuan filsafat yaitu untuk membimbing kearah kebijakan.


BAB II
ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN MEDERN

A.    Aliran-aliran Filsafat Pendidikan Modern
1.      Aliran Progresivisme
Aliran ini mengakui dan berusaha mengembangkan asas Progresivisme dalam semua realita kehidupan, agar manusia bisa survive menghadapi semua tantangan hidup. Dinamakan instrumentalisme, karena aliran ini beranggapan bahwa kemampuan intelegensia manusia sebagai alat untuk hidup, untuk kesejahtraan dan untuk mengembangkan kepribadian manusia. Dinamankan instrumentalisme karena, aliran ini menyadari dan mempraktikkan asas eksperimen untuk menguji kebenaran suatu teori. Dinamakan environmentalisme karena aliran ini menggangap lingkungan hidup itu mempengaruhi pembinaan kepribadian. Oleh karena itu, aliran progresivisme dianggap sebagai the liberal road of culture (kebebasan mutlak menuju kebudayaan). Tampaknya filsafat progresivisme menuntut kepada para penganutnya untuk selalu maju bertindak secara konsruktif, inovatif, reformatif, aktif dan dinamis walau aliran ini juga percaya terhadap kekuatan alamiah manusia yang diwarisi sejak lahir.
Langkah-langkah menghadapi problema  mengajukan hipotesis :
a)      Asas Belajar
John dewey ingin mengubah hambatan dalam demokrasi pendidikan dengan jalan :
1)   Memberikan kesempatan murid untuk belajar perorangan
2)   Memberikan kesempatan murid untuk belajar melalui pengalaman
3)   Memberi motivasi dan bukan perintah, dalam artian memberikan tujuan yang dapat menjelaskan ke arah kegiatan belajar yang merupakan kebutuhan pokok anak didik.
4)   Mengikutsertakan murid di dalam setiap aspek kegiatan belajar yang merupakan kebutuhan pokok anak
5)   Menyadari murid bahwa hidup itu dinamis.
b)      Pandangan Kurikulum Progresivisme
c)      Pandangan progresivisme tentang budaya


2.      Aliran Esensialisme
Merupakan aliran pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Aliran ini muncul pada zaman renaissance dengan dasar pijakan lebih fleksibel dan terbuka untuk berubahan, toleran, dan tidak ada kaitannya dengan doktrin tertetu.
Idealisme dan realism adalah aliran filsafat yang membentuk corak asensialisme. Dua aliran ini bertemu tetapi tidak melebur menjadi satu dan tidak melepaskan karakteristiknya masing-masing.
a)      Pandangan esensialisme mengenai belajar
b)      Pandangan esensialisme mengenai kurikulum
3.      Aliran Perenialisme
Aliran ini memandang pendidikan sebagai jalan kembali atau proses mengembalikan keadaan sekarang. Dari pendapat ini diketahui bahwa Perenialisme merupakan hasil pemikiran yang memberikan kemungkinan bagi seseorang untuk bersikaptegas dan lurus.
4.      Aliran Rekonsruksionisme
Kata Rekonsruksionisme berasal dari bahasa inggris reconstruct yang berarti menyusun kembali. Dalam konteks filsafat pendidikan, aliran ini merupakan suatu aliran yang berusaha merombak tata susunan lama dengan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern. Aliran ini pada prisipnya sepaham dengan aliran perenialisme namun prinsip yang dimiliki oleh aliran ini tidaklah sama dengan prinsip perenialisme karena aliran Rekonsruksionisme menempuhnya dengan jalan membina suatu consensus yang paling luas dan mengenai tujuan pokok dan tertinggi dalam kehidupan umat manusia. 

                                                                        BAB III
HUBUNGAN ANTARA FILSAFAT, MANUSIA DAN PENDIDIKAN

A.    Pandangan Filsafat Tentang hakikat manusia
Keberadaan manusia di muka bumi adalah hal yang menarik. Selain manusia sesalu menjadi pokok permasalahan, ia juga dapat melihat bahwa segala peristiwa dan masalah apapun yang terjadi didunia ini pada akhirnya berhubungan dengan manusia. Oleh karena itu dalam usaha mempelajari hakikat manusia diperlukan pemikiran yang filosofis.
1)       Pandangan ilmu pengetahuan tentang manusia
              Pengertian pendidikan secara khusus adalah untuk memahami dan mendalami    hakikat manusia.
2)       Kepribadian Manusia dan pendidikan
Tujuan pendidikan secara umum adalah membina kepribadian manusia secara sempurna.

B.     Sistem Nilai Dalam Kehidupan Manusia
Sistem merupakan suatu himpunan gagasan atau prinsip-prinsip yang saling bertautan, yang bergabung menjadi suatu keseluruhan. Terkait dengan itu, nilai yang merupakan norma tertentu mengatur ketertiban kehidupan sosial.
Asas-asas umum yang universal yang dapat dipandang sebagai prinsip umum seperti
1.      Melaksanakan kewajiban dasar gool will atau itikad baik, dengan kesadaran pengabdian.
2.      Memperlakukan siapapun, anak didik sebagai suatu pribadi yang sama dengan yang lain.
3.      Menghormati perasaan tiap orang
4.      Selalu berusaha menyumbangkan ide-ide, konsepsi-konsepsi dan karya-karya (ilmiah) demi kemajuan bidang kewajibannya.
5.      Akan menerima haknya semata-mata sebagai sutu kehormatan.
C.     Pandangan Filsafat tentang Pendidikan
Filsafat pendidikan adalah nilai-nilai dan keyakinan filsafat yang menjiwai, mendasari dan memberikan identitas suatu sistem pendidikan. Pendidikan di Indonesia diwarnai, dijiwai didasari dan mencerminkan identitas pancasila.
1.      Dasar Tujuan
2.      Pendidikan dan Peserta Didik
3.      Kurikulum
4.      Sistem pendidikan
a)      Emirisme menyatakan bahwa hasil pendidikan dan perkembangan itu bergantung pada pengalaman-pengalaman yang diperoleh anak didiknya selama hidupnya dari luar dirinya berdasarkan perangsangan langsung yang tersedia baginya.
b)      Nativisme atau pesimisme menyatakan bahwa bayi yang baru lahir dengan pembawaan baik dan pembawaan yang buruk.
c)      Naturalisme menyatakan bahwa semua anak yang lahir mempunyai pembawaan yang baik.
d)     Konvergensi menyatakan bahawa anak dilahirkan dengan pembawaan baik dan buruk.
Filsafat pendidikan dalam kegiatan secara normative tertumpu dan berfungsi untuk :
a.       Merumuskan dasar dan tujuan pendidikan, konsep hakikat pendidikan dan hakikat manusia da nisi moral pendidikan.
b.      Merumuskan teori bentuk dan sistem pendidikan berupa moral dan kepemimpinan, politik dan pendidikan, pola-pola akulturasi dan peranan pendidikan dalam pembangunan bangsa dan Negara.
c.       Merumuskan hubungan antara agama, filsafat, filsafat pendidikan, teori pendidikan dan kebudayaan.

                                                                    BAB IV
FILSAFAT PENDIDIKAN PANCASILA

A.    Pancasila Sebagai Filsafat Hidup Bangsa
Dalam TAP MPR No. II/MPR/1978, Pancasila adalah jiwa seluruh rakyat Indonesia, kepribadian bangsa, pandangan dan dasar Negara. Disamping menjadi tujuan hidup bangsa, pancasila juga merupakan kebudayaan ynag mengajarkanbahwa hidup manusia akan mencapai puncak kebahagiaan jika dapat dikembangkan keselarasan dari keseimbangan, baik dalam hidup manusia sebagai pribadi, sebagai makhluk sosial dalam mengajar hubungan dengan masyarakat, alam, tuhannya maupun dalam mengajar kemajuan lahirnya dan kebahagiaan rohaniah.

B.     Pancasila sebagai Filsafat Pendidikan Nasional
Dalam kehidupan suatu bangsa, pendidikan mempunyai peranan yang amat penting untuk menjamin perkembangan dan kelangsungan kehidupan bangsa yang bersangkutan. Karena itu, pendidikan diusahakan dan diselenggarakan oleh pemerintah sebagai suatu sistem pengajaran nasional sebagaimana yang termasuk dalam UUD 1945 pasal 31 ayat 2.

C.     Hubungan Pancasila dengan Sistem Pendidikan Ditinjau dari Filsafat Pendidikan
Bila kita menghubungkan fungsi pancasila dengan sistem pendidikan ditinjau dari filsafat pendidikan, maka dapat kita jabarkan bahwa pancasila adalah pandangan hidup bangsa yang menjiwai sila-silanya dalam kehidupan sehari-hari.

D.    Filsafat Pendidikan Pancasila dalam tinjauan Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi
1.      Ontologi
Adalah bagian dari filsafat yang menyelidiki tentang hakikat yang ada.
a)      Sila Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa
Dalam sistem pendidikan nasional dijelaskan bahwa pendidikan nasional adalah pendidikan yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
b)      Sila Kedua, Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab
Pendidikan nasional bertujuan membangun masyarakat pancasila, maka pendidikan harus dijiwai pancasila sehingga akan melahirkan masyarakat yang susila, bertanggung jawab, adil dan makmur baik spiritual maupun material, dan berjiwa pancasila.
c)      Sila Ketiga, Persatuan Indonesia
Dalam persatuan yang kuat kita dapat menikmati alam kemerdekaan.
d)     Sila Keempat, Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan.
Sila ini sering dikaitkan dengan kehidupan berdemokrasi.
e)      Sila Kelima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Dalam sistem pendidikan nasional, maksud adil dalam arti luas mencakup seluruh aspek pendidikan yang ada.
2.      Epistemologi
      Adalah studi tentang pengetahuan (adanya) benda-benda. Merupakan ilmu filsafat menyelidiki sumber, syarat, proses terjadinya ilmu pengetahuan, batas validasi dan hakikat ilmu pengetahuan.
a)      Sila Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa
Pancasila bersumber dari bangsa Indonesia yang prosesnya melalui rakyat.
b)      Sila Kedua, Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab
Manusia memiliki basis atau potensi yang dapat dikembangkan.
c)      Sila Ketiga, Persatuan Indonesia
Proses terbentuknya pengetahuan manusia merupakan hasil dari kerjasama atau produk hubungan dengan lingkungan.
d)     Sila Keempat, Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan.
Dalam sistem pendidikan nasional, pendidikan memang mempunyai peranan yang besar, tetapi tidak menutup kemungkinan peran keluarga dan masyarakat dalam membentuk manusia Indonesia yang seutuhnya.

e)      Sila Kelima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Dalam arti luas, adil dimasud seimbang antara ilmu umum dan ilmu agama.

3.      Aksiologi
Adalah bidang filsafat yang menyelidiki nilai-nilai (Value). Dikatakan memiliki nilai-nilai bila berguna, benar, bermoral, atis dan ada nilai religious.
a)      Sila Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa
   Dilihat dari segi pendidikan, sejak dari tingkat kanak-kanak sampai perguruan tinggi, diberikan pelajaran agama dan hal ini merupakan subsistem dari sistem pendidikan nasional.
b)      Sila Kedua, Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab
Hak setiap orang adalah sama, tidak ada perbedaan antara yang satu dan yang lainnya.
c)      Sila Ketiga, Persatuan Indonesia
Dalam pendidikan, jika kita ingin berhasil kita harus berlkorban demi tercapainya tujuan yang didambakan.
d)     Sila Keempat, Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan.
Sejak dulu Indonesia sudah memiliki sikap gotong royong dan musyawarah.
e)      Sila Kelima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Adil berarti seimbang antara hak dan kewajiban.

BAB V
FILSAFAT PENDIDIKAN PENINGKATAN SUMBER DAYA MANUSIA

A.    Filsafat Pendidikan dan Kepribadian
Peningkatan kualitas sumber daya manusia tentunya berbeda dari zaman kezaman. Sifat, bentuk, dan arahnya tergantung dari kondisi lingkungan dan kebutuhan masyarakat masing-masing.
Dilihat dari sudut pandang individu, pendidikan merupakan usaha untuk membimbing dan menghubungkan potensi individu.
Transfer nilai-nilai budaya yang paling efektif adalah melalui proses pendidikan. Dalam masyarakat modern, proses pendidikan tersebut didasarkan pada suatu sistem yang sengaja dirancang sebagai suatu program pendidikan secara formal. Oleh sebab itu, dalam penyelenggaraanya dibentuk lembaga pendidikan formal.
Dengan demikian, antara rantai hubungan itu terlihat pada perincian sebagai berikut :
1.      Setiap masyarakat atau bangsa memiliki sistem ideal yang dipandang sebagai suatu yang besar.
2.      Nilai-nilai  tersebut perlu dipertahankan sebagai suatu pandangan hidup atau filsafat hidup mereka.
3.      Agar nilai-nilai tersebut dapat dipelihara secara lestari, perlu diwariskan kepada generasi muda.
4.      Usaha pelestarian melalui pewarisan ini efektifnya melalui pendidikan.
5.      Usaah menyelaraskan pendidikan yang diselenggarakan dengan muatan yang terkandung dalam nilai-nilai yang menjadi pandangan hidup tersebut, maka secara sistematis program pendidikan harus menempatkan nilai-nilai tadi sebagai landasan dasar, muatan dan tujuan yang akan dicapai.
B.     Filsafat Pendidikan dan Sumber Daya Manusia
Manusia adalah makhluk yang memiliki berbagai potensi bawaan. Dari sudut pandang potensi yang dimiliki itu, manusia dinamakan dengan berbagai sebutan. Dilihat dari potensi intelektualnya manusia disebut homo intelectus. Manusia juga disebut homo faber karena manusia memiliki kemampuan untuk membuat beragam barang atau peralatan. Kemudian manusiapun disebut sebagai homo sacinss atau homo saciela abima, karena manusia adalah makhluk bermasyarakat. Di lain pihak, manusia juga memiliki kemampuan merasai, mengerti, membeda-bedakan, kearifan, kebijaksanaan dan pengetahua. Atas dasar adanya kemampuan tersebut, manusia disebut homo sapiens.
Filsafat pendidikan disusun atas dua pendekatan :
1.      Pendekatan pertama bahwa filsafat pendidikan diartikan  sebagai aliran yang didasarkan pada pandangan filosofis tokoh-tokoh tertentu.
2.      Pendekatan kedua adalah usaha untuk menemukan jawaban dari pendidikan berserta problema-problema yang ada memerlukan tinjauan filosofis.
Tujuan pendidikan di Indonesia adalah membentuk manusia yang berkepribadian, mandiri, maju, tangguh, cerdas, keratif, terampil, disiplin, beretos kerja, professional, bertanggung jawab, produktif, serta sehat jasmani dan rohani. Lebih jauh, dalam kaitannya dengan kehidupan berbangsa, pendidikan nasional juga menggariskan tujuan yang harus dicapai. Tujuan ini meliputi upaya untuk menumbuhkan jiwa patriotik dan mempertebal cinta tanah air, meningkatkan semangat kebenaran dan kesetiakawanan sosial, serta kesadaran pada sejarah bangsa dn sikap menghargai jasa pahlawan serta berorientasi masa depan.












Tidak ada komentar:

Posting Komentar