BAB I
PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP
FILSAFAT PENDIDIKAN
A.
Pengertian
Filsafat
Kata filsafat
berasal dari bahasa yunani, philosophia yang berarti cinta pengetahuan. Dari
asal kata ini dapat ditarik pengertian bahwa filsafat adalah cinta ilmu
pengetahuan atau kebenaran, suka kepada hikmah dan kebijaksanaan.
Filsafat dibutuhkan
manusia dalam upaya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam berbagai
lapangan kehidupan manusia, termasuk di dalam bidang pendidikan .
B.
Pengertian
Filsafat Pendidikan
Filsafat pendidikan
adalah aktivitas pikiran yang teratur yang menjadikan filsafat sebagai jalan
untuk mengatur, menyelaraskan, dan memadukan proses pendidikan.
Dalam pandangan
Jhon Dewey, pendidikan adalah sebagai proses pembentukan kemampuan dasar yang
fundamental, yang menyangkut daya pikir
(intelektual) maupun daya rasa (emosi) manusia.
C.
Ruang
Lingkup Bahasan Filsafat Pendidikan
Filsafat
bertujuan memberikan pengertian yang dapat diterima oleh manusia mengenai
konsep-konsep hidup secara ideal dan mendasar bagi manusia agar mendapatkan
kebahagiaan dan kesejahtraan.
Secara makro,
apa yang menjadi objek pemikiran filsafat yaitu permasalahan kehidupan manusia,
alam semesta dan sekitarnya. Juga merupakan objek pemikiran filsafat
pendidikan, namun secara mikro ruang lingkup filsafat pendidikan meliputi :
1)
Merumuskan
secara tegas sifat hakikat pendidikan
2)
Merumuskan
sifat hakikat manusia, sebagai subjek dan objek pendidikan
3)
Merumuskan
secara tegas hubungan antara filsafat, filsafat pendidikan, agama dan budaya.
4)
Merumuskan
hubungan antara filsafat, filsafat pendidikan dan teori pendidikan
5)
Merumuskan
hubungan antara filsafat Negara (ideologi), filsafat pendidikan dan politik
pendidikan (sistem pendidikan)
6)
Merumuskan
sistem nilai-norma atau isi moral pendidikan yang merupakan tujuan pendidikan.
Selain itu filsafat
pendidikan juga memiliki beberapa sumber primer yaitu :
1.
Manusia
(peole). Macam-macam hubungan dan pengalaman seseorang bersama kelompok
masyarakat lainnya membantu proses penciptaan sikap dan sistem keyakinan
seseorang.
2.
Sekolah
(school). Pengalaman seseorang jenis sekolah dan guru-guru di dalamnya
merupakan sumber-sumber pokok dari filsafat pendidikan . sekolah mempengaruhi
dan akan terus mempengaruhi filsafat pendidikan seseorang.
3.
Lingkungan
(environment). Lingkungan sosial budaya tempat seseorang tinggal dan dibesarkan
adalah sumber yang lain dari filsafat pendidikan.
D.
Hubungan
Filsafat Dengan Filsafat pendidikan
Filsafat
pendidikan adalah aktivitas pemikiran yang teratur yang menjadikan filsafat sebagai media untuk menyusun proses
pendidikan, menyelaraskan, mengharmoniskan dan menerapkan nilai-nilai dan
tujuan yang ingin dicapai. Tujuan pendidikan adalah tujuan filsafat yaitu untuk
membimbing kearah kebijakan.
BAB II
ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN MEDERN
A.
Aliran-aliran
Filsafat Pendidikan Modern
1.
Aliran
Progresivisme
Aliran ini mengakui dan berusaha mengembangkan asas
Progresivisme dalam semua realita kehidupan, agar manusia bisa survive
menghadapi semua tantangan hidup. Dinamakan instrumentalisme, karena aliran ini
beranggapan bahwa kemampuan intelegensia manusia sebagai alat untuk hidup,
untuk kesejahtraan dan untuk mengembangkan kepribadian manusia. Dinamankan
instrumentalisme karena, aliran ini menyadari dan mempraktikkan asas eksperimen
untuk menguji kebenaran suatu teori. Dinamakan environmentalisme karena aliran
ini menggangap lingkungan hidup itu mempengaruhi pembinaan kepribadian. Oleh
karena itu, aliran progresivisme dianggap sebagai the liberal road of culture (kebebasan
mutlak menuju kebudayaan). Tampaknya filsafat progresivisme menuntut kepada
para penganutnya untuk selalu maju bertindak secara konsruktif, inovatif,
reformatif, aktif dan dinamis walau aliran ini juga percaya terhadap kekuatan
alamiah manusia yang diwarisi sejak lahir.
Langkah-langkah menghadapi problema mengajukan hipotesis :
a)
Asas
Belajar
John dewey ingin mengubah hambatan dalam demokrasi
pendidikan dengan jalan :
1)
Memberikan
kesempatan murid untuk belajar perorangan
2)
Memberikan
kesempatan murid untuk belajar melalui pengalaman
3)
Memberi
motivasi dan bukan perintah, dalam artian memberikan tujuan yang dapat
menjelaskan ke arah kegiatan belajar yang merupakan kebutuhan pokok anak didik.
4)
Mengikutsertakan
murid di dalam setiap aspek kegiatan belajar yang merupakan kebutuhan pokok
anak
5)
Menyadari
murid bahwa hidup itu dinamis.
b)
Pandangan
Kurikulum Progresivisme
c)
Pandangan
progresivisme tentang budaya
2.
Aliran
Esensialisme
Merupakan aliran pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai
kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Aliran ini muncul
pada zaman renaissance dengan dasar pijakan lebih fleksibel dan terbuka untuk
berubahan, toleran, dan tidak ada kaitannya dengan doktrin tertetu.
Idealisme dan realism adalah aliran filsafat yang
membentuk corak asensialisme. Dua aliran ini bertemu tetapi tidak melebur
menjadi satu dan tidak melepaskan karakteristiknya masing-masing.
a)
Pandangan
esensialisme mengenai belajar
b)
Pandangan
esensialisme mengenai kurikulum
3.
Aliran
Perenialisme
Aliran ini memandang pendidikan sebagai jalan kembali
atau proses mengembalikan keadaan sekarang. Dari pendapat ini diketahui bahwa
Perenialisme merupakan hasil pemikiran yang memberikan kemungkinan bagi
seseorang untuk bersikaptegas dan lurus.
4.
Aliran
Rekonsruksionisme
Kata Rekonsruksionisme berasal dari bahasa inggris
reconstruct yang berarti menyusun kembali. Dalam konteks filsafat pendidikan, aliran
ini merupakan suatu aliran yang berusaha merombak tata susunan lama dengan
membangun tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern. Aliran ini pada
prisipnya sepaham dengan aliran perenialisme namun prinsip yang dimiliki oleh
aliran ini tidaklah sama dengan prinsip perenialisme karena aliran
Rekonsruksionisme menempuhnya dengan jalan membina suatu consensus yang paling
luas dan mengenai tujuan pokok dan tertinggi dalam kehidupan umat manusia.
BAB III
HUBUNGAN ANTARA FILSAFAT,
MANUSIA DAN PENDIDIKAN
A.
Pandangan
Filsafat Tentang hakikat manusia
Keberadaan
manusia di muka bumi adalah hal yang menarik. Selain manusia sesalu menjadi
pokok permasalahan, ia juga dapat melihat bahwa segala peristiwa dan masalah
apapun yang terjadi didunia ini pada akhirnya berhubungan dengan manusia. Oleh
karena itu dalam usaha mempelajari hakikat manusia diperlukan pemikiran yang
filosofis.
1) Pandangan ilmu
pengetahuan tentang manusia
Pengertian
pendidikan secara khusus adalah untuk memahami dan mendalami hakikat manusia.
2)
Kepribadian Manusia dan pendidikan
Tujuan pendidikan secara umum adalah membina
kepribadian manusia secara sempurna.
B.
Sistem
Nilai Dalam Kehidupan Manusia
Sistem merupakan
suatu himpunan gagasan atau prinsip-prinsip yang saling bertautan, yang
bergabung menjadi suatu keseluruhan. Terkait dengan itu, nilai yang merupakan
norma tertentu mengatur ketertiban kehidupan sosial.
Asas-asas umum
yang universal yang dapat dipandang sebagai prinsip umum seperti
1.
Melaksanakan
kewajiban dasar gool will atau itikad baik, dengan kesadaran pengabdian.
2.
Memperlakukan
siapapun, anak didik sebagai suatu pribadi yang sama dengan yang lain.
3.
Menghormati
perasaan tiap orang
4.
Selalu
berusaha menyumbangkan ide-ide, konsepsi-konsepsi dan karya-karya (ilmiah) demi
kemajuan bidang kewajibannya.
5.
Akan
menerima haknya semata-mata sebagai sutu kehormatan.
C.
Pandangan
Filsafat tentang Pendidikan
Filsafat
pendidikan adalah nilai-nilai dan keyakinan filsafat yang menjiwai, mendasari
dan memberikan identitas suatu sistem pendidikan. Pendidikan di Indonesia
diwarnai, dijiwai didasari dan mencerminkan identitas pancasila.
1.
Dasar
Tujuan
2.
Pendidikan
dan Peserta Didik
3.
Kurikulum
4.
Sistem
pendidikan
a)
Emirisme
menyatakan bahwa hasil pendidikan dan perkembangan itu bergantung pada
pengalaman-pengalaman yang diperoleh anak didiknya selama hidupnya dari luar
dirinya berdasarkan perangsangan langsung yang tersedia baginya.
b)
Nativisme
atau pesimisme menyatakan bahwa bayi yang baru lahir dengan pembawaan baik dan
pembawaan yang buruk.
c)
Naturalisme
menyatakan bahwa semua anak yang lahir mempunyai pembawaan yang baik.
d)
Konvergensi
menyatakan bahawa anak dilahirkan dengan pembawaan baik dan buruk.
Filsafat pendidikan dalam
kegiatan secara normative tertumpu dan berfungsi untuk :
a.
Merumuskan
dasar dan tujuan pendidikan, konsep hakikat pendidikan dan hakikat manusia da
nisi moral pendidikan.
b.
Merumuskan
teori bentuk dan sistem pendidikan berupa moral dan kepemimpinan, politik dan
pendidikan, pola-pola akulturasi dan peranan pendidikan dalam pembangunan
bangsa dan Negara.
c.
Merumuskan
hubungan antara agama, filsafat, filsafat pendidikan, teori pendidikan dan
kebudayaan.
BAB IV
FILSAFAT PENDIDIKAN
PANCASILA
A.
Pancasila
Sebagai Filsafat Hidup Bangsa
Dalam TAP MPR
No. II/MPR/1978, Pancasila adalah jiwa seluruh rakyat Indonesia, kepribadian bangsa,
pandangan dan dasar Negara. Disamping menjadi tujuan hidup bangsa, pancasila
juga merupakan kebudayaan ynag mengajarkanbahwa hidup manusia akan mencapai
puncak kebahagiaan jika dapat dikembangkan keselarasan dari keseimbangan, baik
dalam hidup manusia sebagai pribadi, sebagai makhluk sosial dalam mengajar
hubungan dengan masyarakat, alam, tuhannya maupun dalam mengajar kemajuan
lahirnya dan kebahagiaan rohaniah.
B.
Pancasila
sebagai Filsafat Pendidikan Nasional
Dalam kehidupan
suatu bangsa, pendidikan mempunyai peranan yang amat penting untuk menjamin
perkembangan dan kelangsungan kehidupan bangsa yang bersangkutan. Karena itu,
pendidikan diusahakan dan diselenggarakan oleh pemerintah sebagai suatu sistem
pengajaran nasional sebagaimana yang termasuk dalam UUD 1945 pasal 31 ayat 2.
C.
Hubungan
Pancasila dengan Sistem Pendidikan Ditinjau dari Filsafat Pendidikan
Bila kita
menghubungkan fungsi pancasila dengan sistem pendidikan ditinjau dari filsafat
pendidikan, maka dapat kita jabarkan bahwa pancasila adalah pandangan hidup
bangsa yang menjiwai sila-silanya dalam kehidupan sehari-hari.
D.
Filsafat
Pendidikan Pancasila dalam tinjauan Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi
1.
Ontologi
Adalah bagian dari filsafat yang menyelidiki tentang hakikat yang ada.
a)
Sila
Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa
Dalam sistem pendidikan nasional dijelaskan bahwa
pendidikan nasional adalah pendidikan yang berakar pada kebudayaan bangsa
Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
b)
Sila
Kedua, Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab
Pendidikan nasional bertujuan membangun masyarakat
pancasila, maka pendidikan harus dijiwai pancasila sehingga akan melahirkan
masyarakat yang susila, bertanggung jawab, adil dan makmur baik spiritual
maupun material, dan berjiwa pancasila.
c)
Sila
Ketiga, Persatuan Indonesia
Dalam persatuan yang kuat kita dapat menikmati alam
kemerdekaan.
d)
Sila
Keempat, Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam
Permusyawaratan/Perwakilan.
Sila ini sering dikaitkan dengan kehidupan
berdemokrasi.
e)
Sila
Kelima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Dalam sistem pendidikan nasional, maksud adil dalam
arti luas mencakup seluruh aspek pendidikan yang ada.
2.
Epistemologi
Adalah
studi tentang pengetahuan (adanya) benda-benda. Merupakan ilmu filsafat menyelidiki
sumber, syarat, proses terjadinya ilmu pengetahuan, batas validasi dan hakikat
ilmu pengetahuan.
a)
Sila
Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa
Pancasila bersumber dari bangsa Indonesia yang
prosesnya melalui rakyat.
b)
Sila
Kedua, Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab
Manusia memiliki basis atau potensi yang dapat
dikembangkan.
c)
Sila
Ketiga, Persatuan Indonesia
Proses terbentuknya pengetahuan manusia merupakan
hasil dari kerjasama atau produk hubungan dengan lingkungan.
d)
Sila
Keempat, Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam
Permusyawaratan/Perwakilan.
Dalam sistem pendidikan nasional, pendidikan memang
mempunyai peranan yang besar, tetapi tidak menutup kemungkinan peran keluarga
dan masyarakat dalam membentuk manusia Indonesia yang seutuhnya.
e)
Sila
Kelima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Dalam arti luas, adil dimasud seimbang antara ilmu
umum dan ilmu agama.
3.
Aksiologi
Adalah bidang filsafat yang menyelidiki nilai-nilai
(Value). Dikatakan memiliki nilai-nilai bila berguna, benar, bermoral, atis dan
ada nilai religious.
a)
Sila
Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa
Dilihat dari segi pendidikan, sejak dari
tingkat kanak-kanak sampai perguruan tinggi, diberikan pelajaran agama dan hal
ini merupakan subsistem dari sistem pendidikan nasional.
b)
Sila
Kedua, Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab
Hak setiap orang adalah sama, tidak ada perbedaan
antara yang satu dan yang lainnya.
c)
Sila
Ketiga, Persatuan Indonesia
Dalam pendidikan, jika kita ingin berhasil kita harus
berlkorban demi tercapainya tujuan yang didambakan.
d)
Sila
Keempat, Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam
Permusyawaratan/Perwakilan.
Sejak dulu Indonesia sudah memiliki sikap gotong
royong dan musyawarah.
e)
Sila
Kelima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Adil berarti seimbang antara hak dan kewajiban.
BAB V
FILSAFAT PENDIDIKAN
PENINGKATAN SUMBER DAYA MANUSIA
A.
Filsafat
Pendidikan dan Kepribadian
Peningkatan
kualitas sumber daya manusia tentunya berbeda dari zaman kezaman. Sifat,
bentuk, dan arahnya tergantung dari kondisi lingkungan dan kebutuhan masyarakat
masing-masing.
Dilihat dari
sudut pandang individu, pendidikan merupakan usaha untuk membimbing dan
menghubungkan potensi individu.
Transfer
nilai-nilai budaya yang paling efektif adalah melalui proses pendidikan. Dalam
masyarakat modern, proses pendidikan tersebut didasarkan pada suatu sistem yang
sengaja dirancang sebagai suatu program pendidikan secara formal. Oleh sebab
itu, dalam penyelenggaraanya dibentuk lembaga pendidikan formal.
Dengan demikian,
antara rantai hubungan itu terlihat pada perincian sebagai berikut :
1.
Setiap
masyarakat atau bangsa memiliki sistem ideal yang dipandang sebagai suatu yang
besar.
2.
Nilai-nilai tersebut perlu dipertahankan sebagai suatu
pandangan hidup atau filsafat hidup mereka.
3.
Agar
nilai-nilai tersebut dapat dipelihara secara lestari, perlu diwariskan kepada
generasi muda.
4.
Usaha
pelestarian melalui pewarisan ini efektifnya melalui pendidikan.
5.
Usaah
menyelaraskan pendidikan yang diselenggarakan dengan muatan yang terkandung
dalam nilai-nilai yang menjadi pandangan hidup tersebut, maka secara sistematis
program pendidikan harus menempatkan nilai-nilai tadi sebagai landasan dasar,
muatan dan tujuan yang akan dicapai.
B.
Filsafat
Pendidikan dan Sumber Daya Manusia
Manusia adalah
makhluk yang memiliki berbagai potensi bawaan. Dari sudut pandang potensi yang
dimiliki itu, manusia dinamakan dengan berbagai sebutan. Dilihat dari potensi
intelektualnya manusia disebut homo intelectus. Manusia juga disebut homo faber
karena manusia memiliki kemampuan untuk membuat beragam barang atau peralatan.
Kemudian manusiapun disebut sebagai homo sacinss atau homo saciela abima,
karena manusia adalah makhluk bermasyarakat. Di lain pihak, manusia juga
memiliki kemampuan merasai, mengerti, membeda-bedakan, kearifan, kebijaksanaan
dan pengetahua. Atas dasar adanya kemampuan tersebut, manusia disebut homo
sapiens.
Filsafat
pendidikan disusun atas dua pendekatan :
1.
Pendekatan
pertama bahwa filsafat pendidikan diartikan
sebagai aliran yang didasarkan pada pandangan filosofis tokoh-tokoh
tertentu.
2.
Pendekatan
kedua adalah usaha untuk menemukan jawaban dari pendidikan berserta
problema-problema yang ada memerlukan tinjauan filosofis.
Tujuan pendidikan di
Indonesia adalah membentuk manusia yang berkepribadian, mandiri, maju, tangguh,
cerdas, keratif, terampil, disiplin, beretos kerja, professional, bertanggung
jawab, produktif, serta sehat jasmani dan rohani. Lebih jauh, dalam kaitannya
dengan kehidupan berbangsa, pendidikan nasional juga menggariskan tujuan yang
harus dicapai. Tujuan ini meliputi upaya untuk menumbuhkan jiwa patriotik dan
mempertebal cinta tanah air, meningkatkan semangat kebenaran dan kesetiakawanan
sosial, serta kesadaran pada sejarah bangsa dn sikap menghargai jasa pahlawan
serta berorientasi masa depan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar